Di Banyuasin Banyak Obyek Wisata Potensial

0

BANYUASIN -Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuasin menyakinkan bahwa kawasan perairan wilayah Desa Sungsang 2, Kecamatan Banyuasin II, sebagai lokasi wisata yang potensial.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bappeda Litbang, Erwin Ibrahim, bahwa dari beberapa pulau yang ada diantaranya sangat potensi dalam pengembangan Ekowisata. Seperti Pulau Ekor Tikus atau Pulau Alangan Tikus yang dapat dikujungi dengan melalui akses Jalan sungai dan laut yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan Tanjung Siapi-api (TAA) hanya berkisar waktu 20 menit sudah dapat sampai.

”Jadi kita akan tawarkan ke beberbagai pihak untuk pengembangan Ekowisata di kabupaten Banyuasin,” kata Erwin Ibrahim, Senin (8/7), saat berkunjung ke Pulau Ekor Tikus di perairan Desa Sungsang II, Kecamatan Banyuasin II.

Dirinya menjelaskan, dalam pengembangannya juga sangat butuh dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, lokasi pulau yang sangat Geografis sangatlah dibutuhkan perencanaan yang matang dalam pengembangannya.

”Masterplannya akan kita siapkan terlebih dahulu dan seperti hari ini kita kerjasama melakukan kegiatan kunjungan yang dibiayai oleh pihak ZSL dan tidak menggunakan dana APBD,” tegasnya.

Erwin juga mengungkapkan dari kunjungan kali ini, pihaknya melihat juga beberapa pulau seperti Pulau Ekor Tikus, Pulau Payung dan satu pulau yang tidak memiliki nama, merupakan lokasi tempat hidupnya burung-burung Migran dan juga kawasan habitat ikan dan udang yang besar. ”Satu pulau tak ada nama itu keindahannya mirip seperti kawasan pulau di Raja Ampat, Papua Barat,” ucapnya.

Sementara itu, Sardi Winata Program Manager Life Lihut Dari ZSL Kelola Sendang mengatakan, pihaknya melihat Kabupaten Banyuasin sebagai lokasi ekowisata yang sangat baik jika dikembangkan dan telah memasukkan dalam projek yang ada dalam program pihaknya sebagai lokasi tujuan wisata nantinya.

Oleh karena itu, beberapa pulau dan kawasan Desa Sungsang II di Kecamatan Banyuasin II yang juga masuk di kawasan taman nasional sembilang merupakan kawasan yang memiliki banyak pulau dan keasriannya masih terjaga.

”Sekarang ini semua orang berbicara tentang wisata. Jadi kita lakukan studi terlebih dahulu dan kita tidak bicara tentang wisata lokal saja, bahkan kita akan bicara secara nasional dan internasional kedepannya,” kata dia.

“Kawasan ini akan dikembangkan menjadi destinasi wisata yang mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan,” katanya lagi.

Sementara Camat Banyuasin II, Salinan mengatakan, asal mula nama Pulau Alangan Tikus karena pulau ini berbentuk seperti ekor tikus.

Menyikapi ini Bupati Banyuasin H Askolani meminta bappeda litbang dan opd terkait untuk menyusun Fisibility studimu (FS) dan menggandeng Multi stakeholder untuk menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata.

“Pulau ini mirip Raja Ampat dan kawasan Sungai Mekong Vietnam. Sangat indah dan asri, tidak kalah dengan daerah-daerah wisata di mancanegara,” kata dia.

Kabupaten Banyuasin merupakan daerah yang 60 persen wilayahnya merupakan perairan. Di kabupaten ini terdapat Taman Nasional Berbak Sembilang seluas 205.750 hektare yang selalu dikunjungi burung migran dari Siberia pada Oktober. Momen ini kerap tidak disia-siakan para wisatawan dengan menangkap potensi wisata susur sungai. (sub)