Ketika Warga Karang Pucung Nikmati BBM Berkualitas Setara SPBU

0
Warga terlihat antusias saat membeli BB di Pertashop

Oleh Susilawati

PALEMBANG – Untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berkualitas dan harga yang setara di SPBU tentunya menjadi harapan bagi konsumen Pertamina hingga ke pelosok pedesaan.

Sehubungan dengan hal itu pula Pertamina terus berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat hingga ke pelosok negeri dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dan gas.

Untuk membantu masyarakat agar bisa menikmati BBM berkualitas dengan setara SPBU maka pertashop hadir di pedesaan. Dengan begitu masyarakat di pedesaan dapat memenuhi kebutuhan energi yang berkualitas dan harganya sama dengan di SPBU.

Pertashop merupakan lembaga penyalur resmi Pertamina dengan skala yang lebih kecil, untuk melayani kebutuhan BBM berkualitas seperti Pertamax, Bright Gas dan pelumas yang belum terlayani oleh penyalur resmi Pertamina lainnya seperti SPBU, menghadirkan produk dengan kualitas dan harga yang sama dengan SPBU, takaran yang tepat serta memperhatikan adanya faktor keamanan. Adapun BBM dipasok melalui Fuel Terminal atau TBBM Pertamina terdekat.

Kehadiran pertashop di pedesaan tentunya disambut baik oleh masyarakat karena mereka dapat memperoleh BBM dengan harga setara SPBU dan kualitasnya juga sama dan jaraknyapun lebih dekat dibandingkan ke SPBU. Jarak tempuh ke SPBU cukup jauh seperti halnya warga Desa Karang Pucung, Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan untuk sampai ke SPBU perlu menempuh jarak sekitar 15 kilometer.

“Dengan adanya Pertashop yang menjual pertamax di desa ini tentunya sangat membantu saya dalam mendapatkan BBM berkualitas,” kata salah seorang warga Tarasino (43) di Desa Karang Pucung saat dibincangi belum lama ini.

Ia menuturkan, selain jaraknya lebih dekat harganya juga cukup terjangkau hanya selisih sedikit dengan yang dijual di eceran. Tentunya sangat membantu selain harganya terjangkau dan BBM juga berkualitas sehingga motor saya mudah untuk distarter sehingga kendaraan bisa langsung hidup.

Ia mengaku, selama ini membeli BBM untuk kendaraannya di eceran tapi terkadang susah untuk distarter. Dengan adanya pertashop ini ia mulai membeli BBM  pertamax di sana dan kendaraannya juga mudah untuk distarter dan bisa langsung jalan.

Hal yang sama juga disampaikan warga lainnya, Datim (54) yang mengaku senang dengan kehadiran pertashop di Desa Karang Pucung tersebut karena bisa memperoleh BBM berkualitas dan harganya juga sama dengan di SPBU. “Saya senang dengan adanya pertashop di sini dan harganya juga sesuai sama dengan di SPBU, ” ujarnya.

Sangat terbantu dan tidak ada kendala apapun dan jaraknya juga dekat dengan tempat tinggalnya. Selama ini untuk kendaraannya baik itu roda empat maupun roda dua menggunakan pertamax. Untuk mendapatkan BBM berkualitas di SPBU itu jaraknya sekitar 15 kilometer dari tempat tinggalnya. Sekarang dengan adanya pertashop di sini tentunya sangat terbantu dan jarak tempuhnya hanya sekitar 1,5 kilometer sehingga tidak perlu jauh lagi dalam memperoleh pertamax.

Ia mengaku kalau dirinya seorang pedagang dan petani sehingga sangat terbantu dengan keberadaan pertashop untuk kendaraannya, karena memang menggunakan pertamax.

Sementara itu Sekdes Karang Pucung, Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan,  M Wastono menuturkan, kalau mereka mempunyai program dari pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat melalui Bumdes untuk dana APBD yang masuk dan ini sangat cocok dipadukan disikronisasikan dengan pertashop masuk APBD desa, karena itu pihaknya sangat mendukung program tersebut.

Selain itu pula adanya pertashop ini sangat dibutuhkan yang menjual pertamax yang harganya sama dengan di SPBU. Di desa ini banyak yang menjual BBM eceran untuk premium dan pertalite yang jaraknya dekat tapi harganya lebih tinggi dari Pertamina.  “Alhamdulillah dengan adanya pertashop yang menjual pertamax ini sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat, Jadi masyarakat tertolong dan harga tidak jauh berbeda selisih sekitar Rp200,- per liternya,” kata dia.

Lebih lanjut ia menyatakan, kalau pertashop di desa tersebut sudah beroperasional sekitar dua setengah  bulan yang lalu dan peminatnya juga cukup banyak. Untuk melayani para konsumen sementara ini pihaknya mempekerjakan dua orang dan melihat perkembangan sekarang ini pertashop di desa itu mulai buka pukul 06.30 WIB hingga 19.00 WIB.

Untuk harga jual BBM di pertashop jenis pertamax Rp9.200 perliternya. Untuk sekarang ini konsumsinya sekitar 3.200 liter dan dalam dua hari sekali mobil tangki datang untuk mengisi. Sejauh ini perkembangannya sangat bagus.

Lebih lanjut ia menyampaikan, untuk modal awalnya Rp150 juta dengan menyediakan lahan lokasi pertashop.

Selain usaha itu sudah ada kegiatan usaha simpan pinjam, brilink. Nanti di lokasi pertashop itu juga akan dibuka usaha-usaha lainnya seperti counter handphone dan rencananya juga pupuk. Jadi, terpadu di satu lokasi, karena di belakang pertashop masih ada lahan kosong, ujarnya sambil menunjuk lahan yang dimaksud.

Ia menuturkan, pada awalnya mereka tidak mengetahui mengenai pertashop dan karena ini program pemerintah dari Mendagri ada tembusan ke desa kemudian ada peluang untuk kerja sama Bumdes dan di sana ada royalti juga masuk ke desa melalui bumdes. Itu ada income masuk ke desa untuk memperkuat PAD desa makanya mereka ikut bergabung di dalamnya mendukung program tersebut. “Jadi, ada royalty yang masuk ke desa,” katanya.

Dapat BBM Berkualitas

“Pertashop adalah upaya kami untuk membantu Bumdes dalam berusaha atau menyalurkan dana-dana desanya dalam kegiatan yang lebih ekonomis”, kata Region Manager Communication, Relations CSR Sumbagsel, Dewi Sri Utami.

Pertashop ini sebenarnya awalnya adalah untuk masyarakat yang jauh dari SPBU bisa membeli BBM dengan harga yang sama tapi di titik-titik tertentu. Awalnya pertashop ini ada kesepakatan antara pertamina kemudian kementerian dalam negeri dan kementerian desa tertinggal memberikan penugasan di titik-titik mana sebagai lembaga penyalur dari sana kemudian berkembang.

Sekarang ini penetapan kesepakatan MoU ini sudah selesai pihaknya akan membuka desa-desa lain yang mempunyai inisiatif membangun pertashop dengan persyaratan yang ada. Lokasinya strategis dan kedua bisa terjangkau mobil tangki pertamina.

Kemudian yang kedua beberapa yang bisa membangkitkan perekonomian warga seperti salah satu di Bengkulu bisa 900 liter perhari karena di sana menambahkan bisnis lain jadi ada pelumas,  bright  gas atau elpiji kemudian juga ada layanan pompa nitrogen sehingga warga yang datang ke sana tidak hanya membeli pertamax saja.

Pertashop ini diluncurkan dengan Bumdes sejak akhir tahun lalu untuk Sumbagsel sampai saat ini sudah 35 titik sementara penugasan kementerian 59 titik sehingga sudah di atas 50 persen, sedangkan sisanya proses perizinan sudah selesai tinggal menunggu instalasi. Kemungkinan sisanya tidak sampai November 2020 sudah selesai. Tinggal pengiriman modular pertashop dari Pindad Bandung.

BBM untuk pertashop itu diantar langsung oleh mobil tangki dari terminal BBM jadi harga sama, kualitas sama dan takaran tepat. “Dengan harga dan kualitas yang sama dengan SPBU, diharapkan keberadaan Pertamina makin dirasakan manfaatnya khususnya oleh masyarakat pedesaan”, tuturnya.

Pertashop menjadi bagian penting program One Village One Outlet (OVOO) yang bertujuan untuk menjangkau wilayah terpencil yang belum terlayani oleh SPBU reguler, sehingga masyarakat mendapat hak yang sama untuk memcukupi kebutuhan energinya sebagaimana masyarakat perkotaan.

“Pertashop dibangun dengan skema kerjasama antara Pertamina dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Keberadaan program ini dapat mendorong perekonomian di pelosok, serta membantu terwujudnya energi berkeadilan di Indonesia”, jelas Dewi.

Konsep kerjasama Pertashop memiliki tiga kategori, yakni Gold, Platinum, dan Diamond. Gold berkapasitas penyaluran BBM 400 liter pe hari, dengan luas lahan 144 meter persegi. Platinum berkapasitas penyaluran BBM 1.000 liter per hari, dengan luas lahan 200 meter persegi. Sementara untuk jenis Platinum berkapasitas penyaluran 3.000 liter per hari, dengan luas lahan 500 meter persegi.

“Kami bertahap terus mendorong pembangunan Pertashop ini, dimana saat ini beberapa unit pertashop lainnya tengah dalam proses instalasi, persiapan lahan, dan ada yang tengah memasuki fase kerjasama,” katanya.

Sementara anggota DPRD Sumatera Selatan Holda mengatakan, dengan keberadaan pertashop di pedesaan akan membantu masyarakat dalam memperoleh BBM yang berkualitas dan harganya yang sama dengan SPBU.

Oleh karena itu pihaknya sangat mendukung dengan adanya pertashop di pedesaan sehingga bisa membantu masyarakat yang jauh dari SPBU dalam memperoleh BBM.

Ia juga berharap ke depan akan banyak lagi titik titik lokasi untuk pertashop di pedesaan di daerah tersebut sehingga masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan BBM berkualitas dan harga terjangkau.

Sementara Wakil Ketua DPRD Sumatera Selatan, HM Giri Ramanda N Kiemas menuturkan, dengan keberadaan pertashop diharapkan akses masyarakat terhadap BBM di pedesaan bisa terpenuhi. Kemudian mencegah terjadinya pom bensin – pom bensin “nakal” yang menjual dalam bentuk jeriken, karena orang membeli jeriken, karena akses BBM tidak ada, tetapi dengan adanya pertashop ini di desa-desa akses mereka lebih cepat dan mudah dalam mendapatkan BBM. Jadi, selama menguntungkan masyarakat dalam memperoleh BBM berkualitas dan harga sama dengan SPBU itu sangat baik.

“Kalau mencari BBM di daerah pelosok-pelosok yang jauh dari SPBU harganya berkali-kali lipat dan belum tentu kualitasnya terjamin. Tapi dengan adanya Pertashop, harga sama dan kualitas terjamin dan Bumdes bisa dapat keuntungan pula dari usaha tersebut,” ujarnya. (***)