Melirik Upaya Penyelamatan si Belida dari Kepunahan Oleh Susilawati

0

PALEMBANG, Fokussumsel.com, – Berbicara tentang ikan tentunya semua orang tahu apalagi di Sumatera Selatan yang terkenal dengan pempek yang bahan utamanya adalah ikan. Selain pempek banyak makanan lainnya yang juga menggunakan bahan baku ikan seperti tekwan, model, kemplang, kerupuk dan lainnya.

Ikan untuk bahan utama pembuatan makanan khas daerah tersebut bisa ikan air tawar dan juga ikan laut. Kalau ikan air tawar yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk bahan utama pembuatan pempek seperti ikan gabus dan ikan belida. Namun keberadaan Ikan Belida sekarang ini sudah sangat sedikit sekali apalagi saat ini Ikan Belida termasuk ke dalam salah satu jenis ikan yang dilindungi sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No 01 Tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi.

Ikan belida merupakan jenis spesies ikan tawar yang banyak ditemukan di perairan Indonesia.

Secara umum ikan belida memiliki bentuk tubuh memanjang yang mirip dengan bentuk pisau atau lidah sehingga sering disebut sebagai knife fish atau ikan pisau.

Ikan belida tergolong sebagai ikan dari suku kecil yang mudah dikenali dari bentuk sirip yang sangat panjang yang dihubungkan dengan sisik-sisik kecil mirip sirip ekor.

Ukuran rata-rata ikan belida yang umum tertangkap adalah 15-90 centimeter. Namun, tubuh ikan belida bisa memanjang hingga 150 centimeter.

Menurut  Dr Dina Muthmainnah, S.Si., M.Si.
Peneliti Madya Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang mengatakan ada
4 spesies ikan belida yang dilindungi yakni Chitala borneensis (belida borneo), Chitala hypselonotus (belida sumatera), Chitala lopis (belida lopis) dan Notopterus notopterus (belida Jawa).

Kalau untuk di Sumatera selain Sumsel ikan belida ini banyak terdapat di Jambi dan Riau, sementara kalau di Negara lain seperti Philipina dan Thailand, tuturnya.

Ikan belida ini kalau di tempat lain nilai ekonomisnya rendah sementara kalau di Sumsel tinggi, karena banyak olahan makanan khas daerah ini bahan utamanya adalah ikan.

Karena itu pula ikan belida ini sekarang ini di Sumsel sudah berkurang populasinya. Sehubungan itu pula, Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang melakukan kerjasama melakukan penelitian dengan Pertamina dalam membudidayakan ikan air tawar yang sekarang ini dilindungi.

Sebenarnya sulit untuk budidaya ikan belida dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya, seperti ikan patin, karena telur sedikit dan menetasnya tidak banyak.

Jadi, budidaya yang dilakukan dengan melakukan pembenihan seolah ikan berada di alam dengan meletakkan daun-daun membuat tempat ikan menaruh telur untuk kemudian menetas, ujarnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, kalau untuk
populasi ikan belida berdasarkan data statistik pada tahun 1987 data tangkapan ikan belida masih sebanyak 1.055 ton, kemudian pada tahun 2000 jumlahnya mengalami penurunan menjadi sebanyak 463 ton dan tahun 2018 hanya tinggal 1,02 ton sesuai dengan data yang tercatat, karena itu  akhirnya pihaknya berusaha untuk melestarikannya.

Sehubungan itu pula untuk melestarikan  populasi ikan tersebut sejak tahun 2020 ada dukungan dari Pertamina, ada kegiatan budidaya pencarian induk diadaptasi lingkungan pembenihan dan pembesaran. Dari ujicoba bisa menetas usaha untuk pembesaran.

Dari indukan sudah menetas dan sekarang ini ikan belida berrumur enam bulan dengan panjang sekitar 12 centimeter.

“Kita menyediakan kolam dan tenaga peneliti dari kita dan ada dukungan dari Pertamina,” ujarnya. Kalau khusus untuk penelitian ikan belida kerjasama yang dilakukan dengan Pertamina mulai tahun 2020.

Berdasarkan hasil ujicoba ternyata ada hasil  yang prospeknya cukup bagus dari kolam percontohan di Mariana Ikan belida bertelur yang sekarang ini dengan umur enam bulan dengan bisa membesarkan 12 cm bagus.

Sementara Pelaksanaan Lapangan Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang, Tumiran mengatakan, untuk budidaya bibit ikan Belida tersebut tersedia lima kolam yang ada di Balai Riset tersebut.

Untuk makanan ikan belida ini udang-udang kecil dan anak ikan yang masih kecil.

Selain ikan Belida yang juga dibudidayakan ikan baung dan ikan tembakang, tuturnya.
Ikan Belida kalau beratnya  sudah satu kilogram keatas bisa jadi indukan ikan, katanya pula.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relation & CSR RU III Plaju Siti Rachmi Indahsari menuturkan, Pertamina melakukan kerjasama dengan Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang mulai tahun 2019, pada waktu itu kerjasama penyelamatan ikan belida dan ikan lokal Sumsel. Jadi, yang di budidaya tidak hanya ikan belida saja tetapi juga ikan baung dan tembakang.

Bantuan yang diberikan berupa sarana dan prasarana kemudian indukan ikan Belida dan bibit ikan baung dan tembakang. Selain itu juga memberikan pelatihan ke masyarakat melalui balai riset dan tidak hanya di balai riset, tetapi juga ada kelompok ikan binaan yakni kelompok tani ikan mulia dan budidaya ikan lokal terutama lele Kemudian Ikan air tawar lainnya dan di sana kita edukasi mengenai ikan belida, karateristik ikan belida.

Jadi, melalui Kelompok Tani Ikan Mulia, Pertamina mulai mengerakkan untuk cinta Belida. Gerakan cinta Belida ini berupa edukasi kepada masyarakat, bila menemukan ikan Belida baik di pasar maupun saat memancing supaya langsung menitipkan ikan tersebut ke kelompok tani ikan Mulia untuk dikembangbiakkan.

Selanjutnya, seiring dengan berjalannya waktu kemudian keluar keputusan Ikan Belida termasuk ke dalam salah satu jenis ikan yang dilindungi sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No 01 Tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi, maka sejak 2021 awal sampai sekarang kolam yang dikelola masyarakat sebagai kolam riset dan konservasi ikan belida berubah menjadi kolam penampungan ikan sementara.

Jadi, dari sana kerjasama dengan balai riset dimulai. Pada awal 2021 sekitar Februari atau Maret ikan belida berhasil menelurkan 100 ekor lebih karena kondisi alam dari F1

Pada 15  Februari jumlah F1 ditemukan 124 ekor dan hidup sampai sekarang 65 ekor yang ukuran 20-50 cm, inovasi kambang iwak belida (Bang Ido) sesuai kolam balai riset perikanan.

Bang Ido (Kambang Iwak Belido) Program Budidaya Ikan Belida (Chitala hypselonotus) 2 merupakan salah satu bentuk komitmen RU III Plaju terhadap pemeliharaan sumber daya keanekaragaman hayati. Kegiatan over fishing dan tingkat kesulitan dalam pembudidayaan menyebabkan Ikan Belida termasuk ke dalam salah satu jenis ikan yang dilindungi sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No 01 Tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi.

Kegiatan yang Pertamina lakukan ini, merupakan bentuk tangung jawab terutama untuk penyelamatan ekosistem. Salah satunya fauna yang dinyatakan langka dan kondisinya sudah sangat sulit ditemukan diperairan Sumsel.

Refinery Unit III berupaya melakukan perlindungan keanekaragaman hayati melalui perbaikan populasi Ikan Belida, katanya.

Ia berharap, kedepan pembibitan yang dilakukan nantinya bisa menelurkan keturunan pertama (F1) dapat terus berkembang biak sehingga indukan pertama (F1) bisa memberikan anakkan lagi yang dalam istilahnya (F2) atau turunan kedua.

Pertamina sangat peduli terhadap kelestarian ikan Belida ini. Pada tahun ini perusahaan tersebut menganggarkan dana
melalui Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsbility (CSR) sebesar Rp1 miliar. Dana tersebut diperuntukkan untuk 6 program dan salah satunya pembibitan ikan belida.

Penghargaan

Selain kilang tertua, PT KPI Unit Plaju bersama Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan Palembang (BRPPUPP) telah memulai kolaborasi pemangku kepentingan yang pertama dalam rangka penyelamatan plasma nuftah Ikan Belida di Sungai Musi.

Merespon hal itu, PT KPI Unit Plaju melalui Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsbility (CSR) melakukan Program Keanekaragaman Hayati Berbasis Pemberdayaan Masyarakat “Belida Musi Lestari” bekerjasama dengan BRPPUPP Palembang sejak tahun 2020.

Penganugerahan Rekor MURI itu diserahkan Senior Manager MURI Awan Rahargo dan Manager MURI Triyono, dan diterima oleh PT KPI Unit Plaju melalui Yulian Dekri selaku Direktur Operasi PT KPI dan Yoki Firnandi selaku Direktur Feedstock & Product Optimization disaksikan oleh Karliansyah dan Moh. Hasan Efendi.

Yulian Dekri selaku Direktur Operasi PT KPI mengatakan bahwa Pertamina dalam hal ini PT KPI selain berorientasi pada profit, juga memiliki keinginan untuk berkontribusi memberi manfaat kepada masyarakat melalui CSR. “Tentu dalam operasionalnya PT KPI tidak hanya menghasilkan profit, tapi juga berkeinginan berkontribusi kepada masyarakat melalui CSR,” ujarnya.

Program CSR yang digagas diharapkan dapat bermanfaat bagi lingkungan dan pengembangan masyarakat dan terasa dampaknya. Ia berharap dukungan berbagai pemangku kepentingan atau stakeholder termasuk pemerintah setempat agar dapat mencapai cita-cita besar berupa kebermanfaatan yang dapat dirasakan secara sustain.

Karliansyah juga mengucapkan selamat kepada PT KPI Unit Plaju atas Rekor MURI yang diraih. Ia membenarkan apa yang dikatakan Yulian bahwa korporasi mesti memiliki kepedulian kepada masyarakat dan lingkungan.

“MURI itu integritasnya luar biasa, mudah-mudahan sesuai apa yang disampaikan Pak Yulian, bukan hanya beroperasi, tapi juga memberi profit untuk negara dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Karliansyah.

Sementara itu Moh. Hasan Efendi juga mengucapkan terimakasih atas apresiasi yang diberikan dan mengatakan semua hal ini tak lepas dari dukungan berbagai stakeholder terkait. “Terimakasih banyak atas apresiasinya, tentu ini tak luput dari kerjasama dengan berbagai stakeholder,” ujarnya.

Kepedulian PT KPI Unit Plaju dalam bekerjasama dengan BRPPUPP Palembang untuk melestarikan plasma nuftah Ikan Belida itu juga merupakan upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) kelima belas, yakni menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.

Poin yang dimaksud dalam pencapaian SDGs adalah adalah target ke 15.5, yakni melakukan tindakan cepat dan signifikan untuk mengurangi degradasi habitat alami, menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati, dan, pada tahun 2020, melindungi dan mencegah lenyapnya spesies yang terancam punah. Program ini juga sebagai salah satu kontribusi dalam peningkatan dampak positif perusahaan yang termasuk kriteria Environmental, Social and Governance (ESG).