Mengais Rejeki di Dasar Sungai

0

MUARADUA (fokus-sumsel.com) – Pekerjaan menambang batu koral dari dasar sungai menggunakan perahu kayu kemudian di angkut ke darat dengan cara di pikul menggunakan keranjang telah di jalani Zainal, warga Purus Desa Negeri Ratu Kecamatan Bunga Mayang  sejak beberapa tahun terakhir ini.

Dilatarbelakangi himpitan ekonomi  guna menyambung hidup,pekerjaan menambang batu koral yang setiap hari harus bergelut dengan dingin air sungai dan panas matahari kala siang terpaksa dijalani oleh bapak dua anak ini.

“Mau bagaimana lagi, meski berat memikul puluhan kilo batu koral setiap harinya untuk di angkut dan dikumpulkan menuju daratan sekitar lokasi tambang, namun kami tidak ada pilihan lain lagi selain harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan terutama untuk makan sehari hari bagi keluarganya dirumah,” tutur Zainal, saat dibincang fokus sumsel di lokasi tambang desa sabah lioh kecamatan Bunga Mayang OKU Timur.

Untuk upah perhari yang di dapatkan dari hasil menambang batu koral di sungai, di akui Zainal, uang yang dibawa pulang kerumah setiap harinya tidaklah tentu, paling besar sekitar Rp 150 ribu, itupun kotor serta termasuk telah sangat menguras tenaganya saat bekerja.

Menurutnya pekerjaan menambang secara tradional itu sendiri tergantung kekuatan fisik, jika fisik kuat hasilnya bisa mencapai 150 perhari itupun kotor.

Sebelum memilih bekerja sebagai penambang batu korak, di ceritakan oleh Zainal, dirinya dulu sempat bekerja sebagai petani penampas balam (karet) di kebun miliknya yang tidaklah lebar serta bekerja secara serabutan. Namun sejak harga balam tidak lagi menjanjikan atau anjlok maka dirinya beralih propesi sebagai penambang batu koral di sungai.

Kendati demikkan, ungkap Zainal namun dirinya tetap bersyukur dengan semua kondisi yang ada, meski berat yang penting halal serta tenang.

Ditambahkan olehnya, hasil Rp 150 ribu tersebut bukannnya tiap hari selalu mereka dapatkan, terkadang mereka tidak membawa uang sama sekali, terutama jika cuaca tidak bersahabat seperti air sungai tiba tiba meluap. (den)