Soetrisno Bachir Luncurkan Saudagar Pelajar Muhammadiyah di Palembang

0

PALEMBANG, (fokus-sumsel.com) – Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Soetrisno Bachir meluncurkan saudagar pelajar muhammadiyah di Palembang yang diharapkan bisa meningkatkan jumlah pengusaha muda di Indonesia.

Peluncuran saudagar pelajar muhammadiyah itu dilaksanakan pada  acara pawai kolaborasi dan rapat kerja nasional ikatan pelajar muhammadiyah di Kambang Iwak Palembang, Sabtu.

Menurut dia, muhammadiyah selalu berpikiran berkemajuan, problem bangsa Indonesia adalah di bidang ekonomi tentunya tidak terlepas daripada sedikitnya wirausaha di Indonesia, karena pada waktu zaman kedudukan Belanda orang-orang kita disuruh jadi pegawai dan lainnya, tidak boleh jadi pengusaha. Yang jadi pengusaha pada waktu itu adalah orang-orang kalangan Tionghoa maupun Arabian.

Sekarang kita sudah merdeka, bangsa Indonesia mayoritas umat Islam, muhammadiyah ada di sana itu masih sangat sedikit yang bergerak dibidang usaha, untuk itu ikatan pelajar muhammadiyah (IPM) ini melontarkan tekad bahwa perlunya saudagar pelajar artinya sejak pelajar mulai melatih menjadi saudagar, karena saya juga mulai menjadi pengusaha sejak SMA kelas satu.

“Perlu waktu belasan tahun untuk menjadi pengusaha nasional, jadi ini sangat saya dukung dan mudah-mudahan ini seluruh Indonesia bergerak seperti itu,” katanya.

Soetrisno Bachir juga mengajak organisasi kepemudaan (OKP) menumbuhkan semangat entrepreneurship di kalangan pemuda. Ajakan ini bertujuan meningkatkan jumlah pengusaha mencapai minimal lima persen dari populasi penduduk.

“Pada umumnya ormas kepemudaan berkecimpung di bidang sosial, keagamaan, dan politik. Kali ini saya mengajak seluruh OKP di Indonesia meningkatkan semangat entrepreneurship di kalangan anggotanya,” ujarnya.

Ketua KEIN, yang berlatar belakang pengusaha ini, mengatakan, jumlah OKP mencapai ratusan organisasi dengan puluhan juta anggota yang berusia produktif, yaitu antara 15-40 tahun. Mereka fokus pada pemberdayaan pemuda pada bidang pelajar dan mahasiswa, kepemudaan, keagamaan, dan nasional. Ini merupakan potensi yang perlu ditingkatkan pemberdayaannya melalui agenda program kewirausahaan dari masing-masing organisasi  kepemudaan tersebut.

Program kerja kewirausahaan di kalangan OKP dapat disinergikan dengan program kerja kewirausahaan di kementerian/lembaga (K/L) dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Dengan begitu, sinergi ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan pemuda sehingga akan lahir pengusaha-pengusaha baru di masa depan.

“Keyakinan saya, anak-anak muda sekarang sudah makin cerdas karena pendidikannya makin baik. Tinggal diasah mental entrepreneurship-nya akan menjadi pengusaha andal,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar para pemuda yang tergabung dalam OKP mampu menciptakan industri ekstraktif, nonekstraktif, dan fasilitatif. Sebab industri mampu membuka banyak lapangan kerja dan penciptaan produk barang dan jasa yang bernilai tambah.

Namun demikian, bukan berarti dirinya melarang para pemuda menekuni dunia perdagangan. Apalagi saat ini makin merebak perdagangan elektronik (e-commerce), yang mustahil dibendung.

“Yang perdagangan bisa dilanjutkan, tetapi harus ada yang berkecimpung juga pada industri,” ujarnya.

Ini sejalan dengan agenda Presiden Jokowi agar para pemuda juga menekuni dunia industri yang menciptakan fixed asset dan light asset. Sebab dalam pandanganya bahwa kalangan pemuda lebih dominan menekuni penjualan sebatas brand value. Meskipun hal ini menguntungkan banyak pengusaha maupun konsumen, tetapi dampak perekonomiannya kurang dirasakan.

“Makanya, KEIN itu bukan hanya membahas ‘ekonomi’, tetapi juga mendorong kemajuan ‘industri’,” katanya. (sw)