Ternyata Ini Alasan Akmaludin Bunuh Ibunya

BATURAJA (fokus-sumsel.com) — Entah setan apa yang merasuki Akmaludin (38) warga Desa Tanjung Agung, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Pasalnya, hanya gara-gara ibunya, Salbiah (60) belum memasak nasi dan lauk, pelaku tega menggorok leher korban sebanyak tiga kali hingga tewas

“Waktu pulang sehabis ke kebun pelaku nanya ke korban ada nasi dan lauk dak. Dijawab korban belum masak. Lalu pelaku langsung menerbab korban dari belakang dan menyembelihnya sebanyak tiga kali,” ungkap Kapolres OKU, AKBP NK Widayana Sulandari, melalui Kasatreskrim, AKP Alex Andrian, Kamis (11/4).

Usai membunuh korban kata Kasat, pelaku langsung membuang golok yang digunakannya untuk membunuh korban ke Sungai Lengkayap yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Selanjutnya pelaku seperti tidak ada dosa kabur ke arah Baturaja namun polisi yang bergerak cepat sukses meringkus Akmaludin tanpa perlawanan. “Hari ini kita ke TKP untuk mencari golok yang dibuang tersangka di sungai. Alhamdulilah semua barang bukti berhasil kita dapatkan,” kata Kasat.

Kasat menegaskan, pihaknya saat ini belum bisa memastikan apakah pelaku ada gangguan jiwa atau tidak. Namun saat diajak bicara dan diintrogasi tidak ada sedikitpun gelagat dari tersangka bahwa yang bersangkutan gila. “Sekilas sepertinya pelaku sehat. Tidak gila. Tapi kita cek dulu ke rumah sakit jiwa di Palembang untuk memastikannya,” tandas Kasat.

Sementara Akmaludin sendiri mengaku, aksi sadis tersebut dilakukannya karena khilaf. “Saya marah karena disaat badan lagi capek ternyata nasi dan lauk untuk makan tidak ada,” ujarnya enteng.

Dia mengaku, tanpa pikir panjang mengambil golok di dapur dan langsung menerbap ibunya dari belakang. Kemudian korban digorok sebanyak tiga kali.

Terpisah, Ketua BPD Tanjung Agung, Efran saat ditemui di rumah duka berharap agar pelaku dapat dihukum berat. “Kami minta agar polisi segera mengamankan pelaku dan kalau bisa tidak kembali lagi ke desa kami,” kata Efran.

Efran mengaku, warga sekitar khawatir nanti pelaku akan dibebaskan dan kembali lagi ke desanya karena dianggap gila. “Takut nian kami pak. Serba salah kami nih. Nak dibunuh budak itu kami masuk penjaro. Kalu didiamke di kampung ini kagek ado yang mati lagi,” katanya.

Dia mengaku, warga sekitar sebenarnya sudah sering meminta kepada korban agar memasung tersangka atau memasukannya ke rumah sakit jiwa sebab suka mengamuk oleh masalah sepele.

“Setahun lalu saja pelaku pernah membacok kakaknya sendiri hingga nyaris tewas. Bahkan dua minggu ini pelaku sering marah-marah karena ingin minjam uang ke tetangga untuk beli motor,” ungkapnya.

Namun dorongan kasih sayang seorang ibu kata Efran, membuat korban menolak permintaan warga tersebut dan berjanji akan menjaga pelaku agar tidak berbuat aneh-aneh.

Dia menceritakan, korban sendiri adalah sosok wanita yang dikenal penyabar dan baik hati. “Korban hidup sendiri selama puluhan tahun karena sudah bercerai dengan suaminya, Maulana. Dia punya lima anak. Yang sulung di Prabumulih dan keempat anaknya yang lain di OKU,” ceritanya.

Selain Akmaludin, anak korban yang bungsu, Zolaimi juga mengalami gangguan jiwa. Bahkan saat ini terpaksa dipasung karena suka mengganggu warga khususnya yang perempuan. “Zolaimi itu dipasung karena suka mengintip perempuan mandi di sungai. Bahkan kadang-kadang kalau lagi kumat suka telanjang mandi ke sungai,” katanya. (kie)

Spread the love