Tipu Masuk Polisi, Oknum ASN Pol PP Banyuasin Disidang 

0

PALEMBANG – Lantaran mengimingi korbannya dapat lulus menjadi Polisi wanita (Polwan) Dengan memberikan Rp450 juta sebagai pelicin atau uang suap, Asroni SSos MSi bin Ramin ASN,  Oknum ASN di Satpol PP Kabupaten Banyuasin terancam 4 tahun penjara.

Itu terungkap dalam persidangan pada PN Klas 1A khusus Palembang, dengan agenda dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Supanji Suyudana SH yang menjerat Terdakwa Asroni dengan pasal berlapis yakni Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP dan pasal 378 KUHPidana Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.

Dalam dakwan Jaksa terungkap jika terdakwa mencatut nama Kapolri serta dua Perwira tinggi kepolisian untuk membujuk rayu korbannya agara dapat mempercayai dirinya dan memberikan uang untuk sogokkan masuk Polwan sebesar Rp450 juta.

Bermula pada Maret 2018 Saksi Bambang Irawan mendatangi Saksi Husna untuk menawarkan bantuan jika anak korban mau masuk polwan ada saudaranya yang bisa membantu yakni terdakwa Asroni yang pernah memasukkan polisi sebanyak 2 orang.

Kemudian pada Desember tahun 2017 Saksi Bambang Irawan bersama-sama dengan Saksi Reni, Saksi Rati, Saksi Rohim dan Saksi Husna mendatangi rumah Terdakwa Asroni yang beralamat di Jalan OPI VI Perumahan Bougenvile Blok C Nomor 16 Rt.66 Rw.11,Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang.

Setelah bertemu dengan Terdakwa Asroni, lalu Terdakwa Asroni mengaku bersedia membantu Saksi Reni menjadi Polwan, dan menjelaskan nantinya ada 03 (tiga) orang jenderal yang akan menolong Saksi Reni yakni Kapolri Jendral Polisi Prof, Drs HM Tito Karnavian, Irjen Bambang Irawan dan Paman Terdakwa Asroni Kapolda Bali.

Dengan iming-iming pasti lulus terdakwa menyuruh korbannya untuk menyiapkan uang Rp450 juta. Setelah itu terdakawa Asroni mendatangi rumah Saudari Dina Syafitriani (DPO) yang beralamat di Jalan OPI VI Perumahan Bougenvile Blok L Nomor 21, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang.

Setelah bertemu dengan Saudari Dina Syafitriani (DPO), lalu Saudari Dina Syafitriani (DPO) berkata kepada Terdakwa Asroni bahwa ia sanggup membantu memasukkan Saksi Reni menjadi Anggota Polisi Wanita (Polwan) asal bersedia memberikan uang sebesar Rp400 juta.

Kemudian pada 24 Maret 2018 saudari Dina Syafitriani  (DPO) mendatangi rumah Terdakwa Asroni, setelah itu Saudari Dina menyuruh Asroni meminta uang muka kepada keluarga Saksi Reni sebesar Rp100 juta. Tetapi pada kenyataannya Terdakwa Asroni meminta uang muka kepada Saksi Reni sebesar Rp200 juta.

Kemudian pada Maret sampai Mei 2018 saksi Rati telah mengirimkan uang dengan jumlah total Rp420 juta secara bertahap sebanyak empat kali.

Setelah itu pada Rabu 23 Maret 2018 terdakwa Asroni bersama-sama dengan Saksi Ahmad Nizom yang merupakan mertuanya kembali mendatangi rumah Saudari Dina, lalu Terdakwa Asroni menyerahkan uang sebesar Rp100 juta secara tunai tanpa disertai bukti tertulis.

Selanjutnya Terdakwa Asroni kembali mengirimkan uang dengan jumlah total sebesar Rp300 juta kepada Saudari Dina secara bertahap melalui transfer.

Bahwa benar selain bukti transfer pengiriman uang dengan jumlah total keseluruhan Rp400 juta dari Terdakwa Asroni ke Saudari Dina Syafitriani (DPO) sebagaimana uraian diatas, Terdakwa Asroni juga telah membuat bukti tertulis lainnya berupa kuitansi dengan keterangan Telah Terima dari ASRONI dengan uang sejumlah Rp400 juta untuk pembayaran titipan uang untuk modal usaha dan akan dikembalikan paling lambat 31 Okto er 2018. Yang menerima pembayaran Dina Syafigriani bermaterai Rp6.000 dan ditandatangani serta disaksikan oleh Saksi I Mat Soleh dan Saksi II Aziz Halim.

Selanjutnya pada Mei 2018 Saksi Reni mengikuti tes calon Polisi Wanita (Polwan) untuk pertama kalinya yakni Tes Psikotest tetapi setelah mengikuti tes tersebut dinyatakan gugur/tidak lulus.

Kemudian Saksi Reni bersama-sama dengan Saksi Rati, Saksi Rohim dan Saksi Husna mendatangi rumah Terdakwa Asroni, setelah itu Terdakwa Asroni berkata kepada Saksi Reni bahwa hal tersebut bukanlah masalah dan Reni akan langsung ikut pendidikan karena sudah mengantongi memo dari Kapolri.

Pada Juni  2018 terdakwa Asroni menghubungi Saksi Rati melalui telepon minta tambahan uang sebesar Rp100.000.000, namun korban tak sanggup dan hanya mampu memberikan Rp50 juta dengan dalil Reni sudah pasti ikut pendidikan, sudah terdaftar melalui jalur khsusus sebagai titipan dan mendapat memo dari Pak Tito.

Selanjutnya pada 06 Agustus 2018 terdakwa Asromi mendatangi rumah Saksi Rati dan berkata agar Saksi Reni potong rambut dan membeli pakaian yang dibutuhkan selama pendidikan dan tanggal 08 Agustus 2018 agar segera berkangkat ke Jakarta untuk langsung masuk pendidikan di Ciputat.

Kemudian pada tanggal 08 Agustus 2018 Saksi Reni bersama-sama dengan terdakwa Asroni, Saksi Husna, Saksi Rohim, Saksi Rati dan Saksi Bambang Irawan pergi ke Jakarta dengan menggunakan pesawat udara. Setelah sampai di Jakarta tidak lama kemudian Terdakwa Asroni berkata kepada Saksi Reni bahwa Saksi Reni belum bisa masuk pendidikan pada tanggal 08 Agustus 2018 tetapi diundur 27 Agustus 2018.

Kemudian pada 27 Agustus 2018 terdakwa Asroni berkata kepada saksi Reni bahwa tidak bisa masuk pendidikan polisi wanita (polwan) dikarenakan peserta Polwan yang akan digantikan Saksi Reni masuk pendidikan itu tidak bisa digeser karena anak Kapolda Surabaya.

Lalu terdakwa Asroni pada Agustus 2018 sampai Desember 2018 mengembalikan uang kepada saksi Ratih melalui transfer Anjungan Tunai Mandiri (ATM) secara bertahap dengan jumlah total keseluruhan Rp78 juta. Akibat perbuatannya saksi Rati mengalami kerugian dengan nilai Rp392 juta. (yns)