Tokoh Pemuda Soroti Kasus DBD di Kecamatan Simpang

0
Tokoh dan aktivis pemuda kecamatan Simpang.
Tokoh dan aktivis Pemuda Kecamatan Simpang.

MUARADUA (fokus-sumsel.com) – Ancaman dan serangan penyakit Demam Berdarah Dengue

(DBD) yang melanda beberapa warga Desa Simpang Agung dan Tanjung Sari Kecamatan Simpang mendapat perhatian serius dari salah satu Tokoh serta Aktivis Pemuda Kecamatan Simpang, Marta Dinata.

Marta menyoroti selain saat ini telah ada beberapa warga dari dua desa di kecamatan Simpang yang terkena gejala DBD akibat gigitan nyamuk Aedes Aegipty, ancaman wabah penyakit demam berdarah yang saat ini melanda beberapa wilayah di kecamatan Simpang hendaknya bisa menjadi perhatian lebih serius Pemerintah Daerah khususnya dinas terkait.

Menurut Marta tindakan, baik penyuluhan ataupun pemberian Obat Abate bagi seluruh warga yang ada di kecamatan simpang selain perlu lebih ditingkatkan, keterlibatan serta peran aktif masyarakat tentang sosialisasi akan bahaya serta dampak yang bisa timbul akibat penyakit demam berdarah yang berasal dari perkembang biakan atau gigitan nyamuk aedes aegipty juga perlu di optimalkan.

“Penyuluhan serta pemberian bantuan obat abate sebagai pembunuh jentik nyamuk demam berdarah ke warga terutama yang ada di Desa Simpang Agung dan lainnya selama ini telah cukup baik, akan tetapi tindakan yang dilakukan oleh dinas terkait, baik penyuluhan atau pemberian sekaligus penaburan obat abate pembunuh nyamuk tersebut terutama dikecamatan simpang selain belum dilakukan secara menyuruh juga dirasa masih kurang melibatkan.

Hal ini, terangnya dapat terlihat dari masih Adanya warga yang ada di beberapa wilayah atau desa di kecamatan Simpang yang terkena Gejala penyakit demam berdarah.

“Untuk Di Desa Simpang Agung ini sudah ada sekitar 4 warga yang terkena DBD bahkan terdapat 2 balita di Desa Tanjung Sari yang meninggal dunia di duga akibat serangan nyamuk DBD tersebut,” ujarnya.

Menyikapi adanya beberapa warga Simpang Agung yang terkena  penyakit DBD dan dua balita yang di duga telah menjadi korban keganasan gigitan nyamuk aedes aegipy, Marta berharap akan ada perhatian serta tindakan lebih serius kedepan guna untuk penanggulangan dan pencegahan akan adanya penyakit DBD di kecamatan Simpang,khususnya jika perlu para pemuda dan seluruh masyarakat yang ada di kecamatan lebih dilibatkan bukan hanya dari para para pamong desa atau masyarakat yang di undang saat adanya penyuluhan atau sosialisai tentang DBD dilakukan.

Ditempat terpisah, menanggapi adanya beberapa warga di kecamatan Simpang yang terkena penyakit DBD, Kepala Puskesmas Kecamatan Simpang Ali Sodikin mengatakan pihaknya selama ini telah berusaha guna melakukan tindakan baik itu pencegahan atau sosialisi ke warga tentang adanya penyakit demam berdarah serta bahaya gigitan nyamuk aedes aegipty di wilayah kecamatan Simpang.

Sosialisasi atau berbagai penyuluhan tersebut, ungkapnya dilakukan pihak puskesmas secara langsung atau melalui bidan desa yang ada dikecamatan Simpang dan melaksanakan kerja sama dengan Pemerintah Kecamatan untuk menyampaikan ke seluruh Kepala Desa agar pencegahan serta penanggulangan penyakit DBD tersebut dapat diketahui oleh seluruh warga yang ada di kecamatan setempat.

Di akui Sodikin untuk tahun 2019 ini pihaknya selain melakukan berbagai penyuluhan juga telah membagikan bantuan obat abate untuk warga yang ada di desa Simpang Agung kecamatan Simpang dan menaburkan obat abate di saluran drainase yang ada di desa Simpang Agung.

Sodikin juga membenarkan adanya beberapa warga desa Simpang Agung yang terkena gejala DBD dan semuanga telah mendapatkan pengobatan sekaligus tentang ada dua balita di desa Tanjung Sari yang meninggal akibat terserang gigitan nyamuk DBD tersebut.

“Untuk di Desa Simpang agung tercatat ada empat warga yang terkena gejala DBD dan masih dalam tahap penanganan, dan untuk balita yang meninggal di desa tanjung sari memang positif terkena DBD,” ujarnya.

Terpisah Kepala Desa Simpang Agung, Hi Bahrudin, juga turut membenarkan jika ada empat warganya yang terkena 

 penyakit DBD dan ke empat warganya tersebut telah mendapatkan pengobatan, bahkan ada yang telah berangsur sembuh.

Pada tahun ini selaku Pemerintah Desa dirinya juga telah bermusyawarah dengan warga di desa yang di pimpinnya agar kedepan menprioritaskan pengadaan mesin penyemprot asap pengusir dan pembasmi nyamuk. Selain itu Pemerintah Desa juga akan terus meningkatkan gotong royong bersama warga guna melakukan pembersihan lingkungan yang ada di desa tersebut.

Sementara Kepala Desa Tanjung Sari, Ali Kohar juga turut membenarkan adanya dua balita yang meninggal akibat DBD di desanya.

Disampaikan Kohar, Pemerintah Desa Tanjung Sari selama ini telah menyampaikan baik berupa penyuluhan ataupun sosialisasi tentang pencegahan Penyakit DBD sekaligus himbauan kepada warga agar menjaga kebersihan di lingkungan rumah masing masing.

Terutama, sambungnya tentang Tiga M yakni menguras, menutup serta mengubur barang bekas. Upaya itu dikakukan sebagai bentuk pencegahan agar nyamuk demam berdarah tidak berkembang biak dan tak kalah pentingnya menjaga kebersihan lingkungan juga telah disampaikan.

Terpisah, Erwan salah satu warga Desa Tanjung Sari yang anaknya  menjadi korban meninggal dunia akibat dari gigitan nyamuk demam berdarah tersebut menceritakan bahwa anaknya terdeteksi positif menderita penyakit DBD pada saat dibawa ke RS Umum Muaradua.

“Awal mulanya kondisi tubuh anak kami panas dan tidak mau makan, terus kami bawa ke salah satu bidan, karena tidak ada perkembangan akhirnya anak tersebut dibawa ke rumah sakit yang ada di Muaradua dan dinyatakan positif DBD,” ujar Erwan yang baru saja kehilangan anak tertuanya bernama Angga (4) yang meninggal akibat penyakit DBD tersebut. (den)