Caption Foto: Petugas Perumda Tirta Raja saat sedang membersihkan IPA untuk menjaga kualitas air bersih yang didistribusikan kepada pelanggan. (Foto: Harki Mahali)
BATURAJA – Pagi itu di awal Februari 2025, matahari belum sepenuhnya garang di langit Ogan Komering Ulu (OKU). Namun, di area Water Treatment Plant (WTP) Bakung, keriuhan sudah pecah.
Bukan keriuhan mesin yang biasa terdengar, melainkan suara gesekan sikat kasar bertemu dinding beton dan gemericik air tekanan tinggi yang menghantam endapan lumpur. Di sana, para “pejuang air” dari Perumda Tirta Raja sedang melakukan ritual yang mereka sebut sebagai “Operasi Kejernihan”.
Ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ini adalah manifestasi dari sebuah janji pelayanan. Di balik setiap tetes air bersih yang mengalir ke dapur dan kamar mandi warga OKU, ada narasi tentang kerja keras, pembaruan teknologi, dan visi besar untuk mengubah wajah perusahaan daerah menjadi institusi kelas dunia.
Melawan Lumpur, Menjemput Kualitas
Selama bertahun-tahun, tantangan utama penyedia air minum di wilayah aliran sungai adalah sedimentasi. Lumpur dan sampah organik adalah musuh abadi yang bisa menurunkan kualitas air dalam sekejap.
Menyadari hal ini, Direktur Perumda Tirta Raja, Bertho Darmo Poedjo Asmanto, mengambil langkah radikal: Pengurasan Masif.
“Kegiatan pengurasan dan pembersihan WTP serta booster ini adalah jantung dari operasional kami. Tujuannya satu: memastikan air yang diterima pelanggan bukan hanya mengalir, tapi benar-benar bersih dan terjaga kualitasnya,” ujar Bertho dengan nada tegas.
Prosesnya sangat melelahkan. Tim teknis harus turun ke dasar bak WTP, berhadapan dengan endapan lumpur yang kadang setinggi lutut.
Mereka menyikat lumut yang menempel di dinding bangunan, membersihkan kepingan-kepingan lamella yang berfungsi menangkap partikel kotoran, hingga memastikan valve pembuangan lumpur berfungsi tanpa sumbatan.
Tak ada sudut yang terlewat, bahkan media filter yang menjadi benteng pertahanan terakhir kejernihan air pun dibongkar dan dibersihkan.
Operasi ini dilakukan secara serentak dan rutin di seluruh wilayah kerja. Mulai dari WTP Kantor Pusat, WTP 1 Bakung, WTP 1 Tanjung Agung, hingga WTP 2 & 3 Tanjung Baru.
Tak ketinggalan, unit-unit booster penekan di STM, Sriwijaya, Holindo, hingga Kemelak juga mendapat giliran “disalon” agar performanya kembali prima.
Injeksi Teknologi: Bukan Sekadar Pompa Biasa
Pembersihan dengan otot saja tidak cukup. Perumda Tirta Raja sadar bahwa tuntutan zaman memerlukan dukungan alat yang mumpuni.
Pada Maret 2025, sebuah kebijakan besar diambil. Perusahaan memutuskan untuk melakukan investasi pada infrastruktur inti: pengadaan pompa distribusi baru untuk WTP Tanjung Agung dan pompa dosing baru untuk WTP Bakung.
Bagi orang awam, pompa mungkin hanya alat pemindah air. Namun bagi Tirta Raja, pompa distribusi di Tanjung Agung adalah urat nadi yang memperkuat tekanan pasokan ke rumah warga.
Sementara pompa dosing di Bakung adalah “sang apoteker” yang memastikan dosis bahan kimia pemurni air diberikan secara akurat sesuai standar kesehatan.
“Pengadaan ini adalah strategi kami untuk memastikan distribusi tetap lancar tanpa gangguan, bahkan saat beban puncak,” tambah Bertho. Ini adalah langkah preventif agar istilah “air mati” perlahan hilang dari kamus masyarakat OKU.
Suara Pelanggan: Antara Harapan Digital dan Realita Sosial
Di tengah kemajuan teknis tersebut, suara dari akar rumput tetap menjadi kompas utama.
Nurhayati, seorang pelanggan di kawasan pemukiman, menjadi representasi dari harapan ribuan warga lainnya. Baginya, kualitas air yang membaik adalah berkah, namun kemudahan transaksi adalah kebutuhan masa kini.
“Kami sangat berharap pihak Perumda menyediakan aplikasi khusus. Zaman sekarang semua serba online. Rasanya sayang kalau airnya sudah bagus, tapi kami masih harus repot-repot pergi ke loket setiap bulan hanya untuk membayar tagihan,” ujar Nurhayati.
Meski demikian, Nurhayati mengapresiasi fleksibilitas yang sudah ditunjukkan Tirta Raja saat ini. Kerja sama dengan Bank Sumsel Babel Syariah telah membuka pintu kemudahan awal. Bahkan, ia memuji kebijakan manajemen yang “berhati rakyat”—yakni memberikan kesempatan bagi pelanggan yang menunggak untuk mencicil kewajiban mereka hingga lunas.
“Kebijakan mencicil itu sangat membantu warga yang sedang kesulitan ekonomi. Jadi air tetap mengalir, kewajiban tetap terpenuhi tanpa terasa berat,” tambahnya.
Panggung Internasional: Mahkota bagi Sang Inovator
Kerja keras yang dimulai dari pengurasan lumpur hingga modernisasi pompa itu rupanya tidak luput dari pengamatan lembaga pemberi penghargaan.
Puncaknya terjadi pada 25 April 2025. Di bawah lampu kristal Sunlake Waterfront Sunter Hotel, Jakarta, Perumda Tirta Raja bersama Bupati OKU, H. Teddy Meilwansyah, berdiri di panggung kehormatan.
Mereka dianugerahi ASEAN – Indonesia The Most Innovative Excellent Award 2025. Sebuah penghargaan yang digagas oleh 5 Pilar Media Communication bekerja sama dengan National Awarding Achievement Center. Ini bukan penghargaan sembarangan; ini adalah pengakuan atas dedikasi, integritas, dan inovasi pelayanan publik yang berdampak nyata.
Bupati OKU, H. Teddy Meilwansyah, yang dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap pelayanan publik, mengaku bangga namun tetap rendah hati.
“Alhamdulillah, ini sesuai harapan saya. Dalam waktu singkat, Tirta Raja berhasil meningkatkan kualitas layanan secara signifikan. Penghargaan ini akan memperkuat citra positif institusi kita di mata nasional dan regional,” tuturnya.
Bagi Teddy, penghargaan ini adalah bukti bahwa kolaborasi antara kepemimpinan politik yang mendukung inovasi dan manajemen teknis yang eksekutor bisa menghasilkan perubahan besar.
Menatap Masa Depan: Menuju Perusahaan Daerah yang Sehat dan Unggul
Kini, Perumda Tirta Raja tidak lagi dipandang sebelah mata. Dari perusahaan yang mungkin dulunya hanya dianggap sebagai penyedia jasa rutin, kini menjelma menjadi simbol inovasi di Sumatera Selatan.
Direktur Utama, Bertho Darmo Poedjo Asmanto, menegaskan bahwa prestasi ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Kami tidak bisa meraih ini tanpa dukungan Pak Bupati dan, yang paling utama, kesetiaan pelanggan kami. Prestasi ini menjadikan Tirta Raja sebagai perusahaan daerah yang sehat, unggul, dan menjadi kebanggaan warga OKU,” tutupnya.
Di balik gemerlap trofi dari Jakarta, semangat para petugas di lapangan tetap sama. Mereka tetap bersiaga di sisi WTP, memastikan filter bekerja sempurna, dan bermimpi bahwa suatu saat nanti, senyum pelanggan seperti Nurhayati akan semakin lebar saat membuka aplikasi di ponselnya—sebuah janji digital yang kini sedang digodok di meja manajemen.
Tirta Raja telah membuktikan: bahwa air yang jernih berawal dari niat yang bersih, dan pelayanan yang hebat lahir dari keberanian untuk terus berinovasi. (Harki Mahali)
