Saluran Navigasi Desa di Tungkai Ilir Menyempit

0
Tampak akses jalan ke perkebunan warga digenangi air akibat saluran navigasi di sejumlah desa di Tungkai Ilir, Kabupaten Banyuasin, menyempit, Sabtu (15/4). Foto: Ali Mahyudin

BANYUASIN – Saluran navigasi yang mengaliri beberapa desa di Kecamatan Tungkai Ilir, Kabupaten Banyuasin mengalami penyempitan dan pendangkalan. Hal ini disebabkan tidak adanya perawatan rutin untuk saluran air tersebut, bahkan pinggir saluran penuh dengan semak belukar.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, saluran yang dangkal, menyempit dan ditumbuhi rumput liar tersebut memiliki dampak serius bagi kehidupan warga.

Diantaranya terdapat genangan air, infrastruktur jalan rusak hingga arena perkebunan warga yang banjir.

Salah satu kepala Desa (Kades) yang desanya menggunakan saluran navigasi tersebut yaitu Kades Karang Mulya, Carsa.

Dia mengatakan, masalah ini sudah terjadi sejak lama, sekitar tahun 1996 dan sampai sekarang belum ada normalisasi.

“Saluran Navigasi Desa Karang Mulya kami kurang lebih panjangnya 5 kilometer dimana saat ini kondisinya sangat memprihatikan. Kami perlu normalisasi saluran. Normalisasi saluran sekunder kami terakhir kali dilakukan pada tahun 2015,” jelasnya, Sabtu (15/4/2022).

Dikatakan Carsa, Saluran Navigasi ini juga meliputi 6 desa yaitu Desa Karang Mulya, Karang Anyar, Marga Rahayu, Karang Asem, Sukaraja dan Suka Mulia.

Dampak dari tidak terawatnya saluran sungai, sudah 2 tahun terakhir ini lingkungan rumah serta lahan usaha masyarakat tergenang banjir.

“Mayoritas lahan usaha kami dataran rendah karena kami di wilayah pasang surut, luas wilayah desa Karang Mulya kurang lebih 1.503 Ha. Tak hanya lahan usaha, rumah bersalin pun ikut tergenang,” katanya.

Carsa menambahkan, dampak lain dari menyempitnya saluran navigasi membuat sejumlah infrastruktur jalan terendam banjir, sehingga membuat jalan menjadi becek, berlobang dan berlumpur. Ini tentunya sangat mengganggu aktivitas warga.

“Infrastruktur (jalan produksi) yang rusak di Desa Karang Mulya ada 17 jalur, masing-masing panjangnya 2 KM terendam banjir sehingga menyebabkan kerusakan yang serius,” ungkapnya.

Menurut Carsa, selama ini wilayahnya dianggap alih fungsi dari lahan pertanian menjadi perkebunan, namun masalah ini terjadi bukan suatu kesengajaan tetapi karena sebuah keterpaksaan.

Setelah kemarau panjang tahun 1997, banyak lahan terbakar sehingga menimbulkan zat asam yang begitu tinggi dan berdampak tidak tumbuhnya tanaman pertanian.

Untuk bertahan hidup, sambung Carsa, masyarakat mencoba menanam kelapa sawit secara mandiri pada tahun 2004 sampai sekarang. Itupun kelapa sawit di wilayahnya murni sawit mandiri bukan PT atau Plasma.

“Dampak dari banjir ini melemahkan ekonomi masyarakat, sangatlah wajar kalau kami mengharap adanya normalisasi saluran tersebut. Harapan kami tentunya ada perhatian dari pemerintah untuk masalah ini dan secepatnya ada bantuan,” tandasnya. (din)